Pemberantas Kemunafikan
Islamlah Atau Tidak Sama Sekali
3 October 2008

Saya pernah memusnahkan semua koleksi kaset lagu-lagu yang saya miliki. Baik yang beli sendiri maupun peninggalan kakak saya. Ada Phil Collins, YES, Duran Duran, Michael Frank, The Police, KLA Project, Tika Bisono, Iwan Fals, Rhoma Irama, dll. Semua saya musnahkan. Itu karena di pengajian saya mendapat pelajaran bahwa musik itu haram. Tapi disini kita tidak membahas masalah keharaman musik. Kita bahas di lain tempat saja, atau mungkin tidak perlu kita bahas. Yang lebih penting adalah bagaimana cara saya memusnahkan kaset-kaset tersebut.

Kebetulan waktu itu saya aktif ngaji di Pak Kholid (Kholid Abu Bakar) di Masjid Tropodo. Tapi bukan Pak Kholid ini yang ngasih tahu kalau musik itu haram, saya dapatnya dari ustadz lain. Pak Kholid ini hanyalah korban dari proyek pemusnahan ini. Ceritanya kaset-kaset itu tidak saya bakar atau hancurkan, tapi saya gunakan untuk merekam pengajian Pak Kholid. Lumayan ada kurang lebih 40 kaset. Satu kaset untuk satu episode pengajian yang durasinya sekitar 1 jam itu.

Jadi tiap minggu koleksi lagu saya berkurang satu dan koleksi pengajian bertambah satu. Saya tidak membuat prioritas lagu siapa yang lebih dulu saya musnahkan. Bagi saya semuanya sama haramnya. Tapi entah kenapa di episode yang spesial itu kok pas Rhoma Irama yang saya ambil. Saya rewind mentok, saya masukkan tape recorder kecil. Waktu itu tahun 1996, jadi belum bisa ngrekam pake MP3 Recorder kayak sekarang. Sampai di masjid tape saya letakkan di dampar (bangku panjang untuk baca Al-Qur’an sambil bersila) di depan Pak Kholid. Ada dua tape, milik saya dan milik seorang bapak tua. Memang dua orang ini saja yang langganan ngrekam. Pak Kholid mulai ceramah "Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh… asyhadu’alla ila ha illallah wa’asyhadu anna muhammadarrasulullah… wassolatu ala rasulillah wasahbihi wa mawwalah… saudara-saudara minggu kemarin kita sampai pada ayat…" tiba-tiba ada suara Rhoma Irama "Dari batukah hatimu wahai para hartawan…jreng sampai hatimu membiarkan yang kelaparan…jreng oooohhh". Suara itu keras terdengar di luar masjid melalui speaker TOA. Beberapa detik semua terdiam, termasuk Pak Kholid. Sampai beliau sadar "Ini lho tapemu yang bunyi". Astaghfirullah kayaknya saya tadi terburu-buru mencet, seharusnya tombol Play dan Rec bersamaan, tapi yang kena Play doang. Kejadian kacau ini jelas terekam di kaset milik bapak tua teman saya itu. Mudah-mudahan beliau masih menyimpannya.

Comments

tontowi 3 October 2008, 3:56 pm

hehehe.. lucu iku pak, ndak mbayangno koyok opo wajahe para jamaah hehe..

Bahtiar HS 7 October 2008, 4:30 am

Itu namanya kualat sama om Roma, Pak :) Musik buat dia adalah sarana dakwah. Nada dan Dakwah laksana satu napas. Mengharamkan musik sama halnya mengharamkan dakwah. He he

    Wah iyo bener sampeyan pak. Masuk akal lek ngunu
Thoyib Bustomi 13 October 2008, 6:36 am

Ndiik.. ndik, ono-ono ae awakmu iku. kwalat Bang Rhama, awakmu. Memang musik banyak kalangan ulama’ ahli fiqih mengharamkannya karena musik mudah membawa ‘kelalaian’ kpd Allah. tapi coba tanyakan musik harom itu hukum asal/tetap atau haram karena hukum sebab.

andrie 14 October 2008, 4:23 am

nek seneng lagu, tapi ngaji n sholat-e yo tetep rajin yak opo pak?
nek pilihane soko mas thoyib, mestine haram krn hukum sebab.

    Kandani ojok dibahas nang kene kok. Aku dhewe lho saiki wis gak istiqomah maneh nang ajaran iku. Asli gak kuat. Wong aku seneng banget karo musik. Saiki lek onok KDI yo delok, opo maneh American Idol.
andiluthfi 10 February 2009, 7:17 am

bwahahahaa….lucu banget !! original !!! :) ))))

shun 21 June 2009, 11:07 am

wahahaha

lucu mas. suwer..

salman 4 November 2009, 1:18 am

cak fendik, nomor hp sampeyan piro?
penting!!!
suwun

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: em, b, blockquote



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.