Berita penghinaan terhadap Islam terjadi lagi. Kali ini dari anggota parlemen Belanda bernama Geert Wilders lewat film Fitna. Sepanjang umur ini, saya merekam beberapa berita sejenis, pertama yang dilakukan oleh warga Inggris keturunan India bernama Salman Rusdi lewat buku Satanic Verses. Di dalam negeri juga ada berita penghinaan terhadap Islam, yaitu kasus angket di Majalah Monitor pimpinan Arswendo Atmowiloto. Meskipun dua peristiwa itu terjadi pada era dimana informasi belum sehebat sekarang, tapi responnya luar biasa. Pemimpin Iran Ayatollah Khomeini sampai mengancam hukuman mati terhadap Salman Rusdi. Arswendo pun kena, dipenjara oleh pemerintah RI. Di era informasi digital ini sudah terjadi tiga kali berita penghinaan terhadap Islam, yang pertama adalah penghinaan terhadap Nabi Muhammad lewat karikatur di koran Denmark, kemudian ceramah Paus Benediktus XVI dan terbaru adalah film Fitna ini.
Di Indonesia respon terhadap berita penghinaan itu sangat kuat dan kompak. Malah mungkin muslim Indonesia adalah perespon terhebat dan terkeras di dunia. Ini adalah sebuah refleksi dari rasa cinta yang dalam terhadap Allah dan Nabinya. Tapi sayangnya kita kurang teliti, gajah dipelupuk mata tak tampak, semut diseberang lautan tampak. Sebenarnya ada sebuah penghinaan yang lebih kurang ajar dibanding Fitna dan Satanic Verses. Dan itu dilakukan oleh para pemimpin bangsa ini. Tiap hari.
Saudara, kita semua tahu bahwa Allah adalah Rabbul Alamin itu artinya Dialah yang berhak mengatur alam ini termasuk Indonesia. Allah adalah Al-Alim maka Dialah yang paling mengetahui segala sesuatu di jagad raya ini, Dia sangat tahu apa yang telah, sedang dan akan terjadi di negara kita dan sangat tahu apa yang harus kita lakukan agar sesuatu itu terjadi dan apa yang harus kita hindari agar sesuatu itu tidak terjadi. Dengan segala superioritasnya ini maka Allah adalah Al-Hakim. Dialah Sang Pembuat Hukum.
Maka sudah sepantasnya jika kita bersaksi tidak ada Tuhan yang pantas disembah selain Allah, itu sudah wajar, tidak ada satupun hukum yang berhak kita taati selain hukum Allah. Siapa saja di dunia ini yang coba-coba membuat hukum diluar hukum Allah maka dia adalah thaghut dan barang siapa yang taat kepada thaghut itulah yang dinamakan musyrik.
Apa hukum Allah itu? yaitu aturan yang telah diturunkan Allah kepada manusia lewat nabinya. Semua nabi mulai Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad membawa pesan yang sama yaitu agar manusia hanya menyembah Allah. Pada jaman Nabi Musa aturan Allah terkenal dengan nama SEPULUH PERINTAH TUHAN. Kemudian setelah Nabi Musa wafat Allah menurunkan seorang nabi lagi yaitu Nabi Isa yang meneruskan pesan yang dibawa Nabi Musa dikenal dengan nama Kitab Injil. Termasuk dalam Kitab Injil ini adalah kabar dari Allah bahwa ada nabi lagi setelah beliau Nabi Isa dengan tanda-tanda yang jelas. Beliau adalah Nabi Muhammad dan buktinya adalah Al-Qur’an. Siapa saja yang membaca Al-Qur’an dengan benar dia akan tahu bahwa Al-Qur’an itu dari Allah. Didalamnya Allah berfirman bahwa Nabi Muhammad itulah nabi akhir jaman. Didalamnya ada perintah dan larangan, didalamnya ada pembenaran adanya nabi-nabi terdahulu, didalamnya ada penekanan bahwa Al-Qur’an adalah aturan yang lengkap dan sah. Salah satu aturan adalah jika kita cinta kepada Allah maka ikuti sunnah Nabi Muhammad.
Allah sangat marah jika ada manusia yang membuat hukum sendiri, kemarahan yang sangat besar, hingga memvonis DOSA BESAR YANG TAK TERAMPUNI. Allah berkehendak hanya aturan Dia saja yang dipakai untuk menghukumi segala sesuatu. Ini tercermin dalam percakapan antara Nabi Muhammad dan Muaz sebelum dikirim sebagai gubernur di Yaman.
Sekarang kita lihat di Indonesia, aturan siapa yang dipakai? bukan lain adalah aturan yang dibuat sendiri oleh DPR / MPR / Presiden / Menteri / Pemerintah Daerah yang sumbernya bukan dari Allah, tapi dari SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM negara Indonesia. Inilah penghinaan yang lebih kurang ajar dari sekedar Fitna dan Satanic Verses.
he he … bos … spertinya mulai sensi nih
yah Indonesia itu emang .. semua memang bersumber dari negara (pejabat negara)