Pemberantas Kemunafikan
Islamlah Atau Tidak Sama Sekali
16 October 2006

Definisi bersyukur adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Sedangkan lawan kata bersyukur adalah zolim, yaitu meletakkan segala sesuatu tidak pada tempatnya. Musyrik adalah zolim karena meletakkan Allah tidak pada tempatnya yaitu sebagai satu-satunya sesembahan. Hal ini difirmankan oleh Allah dalam surat Al-Hajj ayat 71: “Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. Dan bagi orang-orang yang zolim sekali-kali tidak ada seorang penolongpun”. Dalam ayat ini Allah menyebut orang-orang musyrik itu dengan sebuatan zolim.

Nikmat paling besar yang diberikan Allah kepada manusia adalah hidayah atau petunjuk. Dan petunjuk itu ya Al-Qur’an itu, barang siapa membaca Al-Qur’an, kemudian dia paham dengan benar maksud ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya itu maka dia pasti akan memperoleh petunjuk. Kita sering melihat para amir di negeri ini, ataupun para ustadz yang berdoa agar bangsa ini mendapatkan hidayah, sebenarnya doa itu sudah dikabulkan oleh Allah sejak 14 abad yang lalu, yaitu Al-Qur’an, itulah hidayah. Namun bangsa Indonesia tidak mau mengambil hidayah tersebut, bahkan berlaku zolim dengan tidak meletakkan Al-Qur’an pada tempatnya, tempat tertinggi sebagai sumber dari segala sumber hukum. Bangsa Indonesia tidak bersyukur atas nikmat Allah yang terbesar ini.

Umar bin Khattab tidak serta merta mendapatkan hidayah dari Allah, meskipun Rasulullah telah memohon kepada Allah. Ada proses yang dilalui, yaitu keinginan Umar agar adiknya membaca ayat Al-Qur’an yang dipegangnya. Dan ketika dibacakan surat Toha, dengan pemahaman yang benar maka seketika hidayah itu didapatkan oleh Umar. Dan Umar mensyukuri nikmat hidayah itu dengan bersyahadat didepan Rasulullah. Sebelum kejadian ini Rasulullah memohon kepada Allah agar salah satu dari dua Umar yaitu Umar bin Khattab atau Abu Jahal masuk Islam, kenapa kemudian yang masuk adalah Umar bin Khattab? jawabnya adalah karena Umar bin Khattab mau mengambil hidayah sedangkan Abu Jahal tidak mau. Kehendak Allah disini adalah “Siapa yang membaca Al-Qur’an dan memahaminya pasti dia mendapatkan hidayah”, dan Umar bin Khattab-lah yang mau masuk dalam kehendak Allah tersebut.

Jadi jangan membayangkan hidayah itu sesuatu yang ghaib, dimana tiba-tiba Allah memasukkan perasaan yang lembut, haru, cinta kedalam hati seseorang. Sekali lagi hidayah adalah petunjuk, dan itu sudah ada sekarang. Tinggal kita mau mengambil atau tidak. Bacalah Al-Qur’an, pahami dengan baik maka pasti kita mendapat petunjuk. Syukurilah dengan cara menempatkan petunjuk itu sebagai satu-satunya petunjuk yang harus kita taati, jangan menempatkan petunjuk yang lain sejajar atau bahkan lebih tinggi dari petunjuk Allah.

Kita sering membaca cerpen, tausiah atau artikel-artikel keimanan. Kadang setelah membaca hati kita merasa tentram, khusyuk, damai, menangis dan merasa menemukan nilai kebenaran dari tulisan tersebut, hingga terucap “subhanallah”, “alhamdulillah”, “laa haula wa la kuwwata illa billah”, dll. Tunggu dulu, apa yang kita baca itu? Al-Qur’an kah? kecuali jika tulisan tersebut mencoba menafsirkan ayat Al-Qur’an. Jika tulisan tersebut hanya menceritakan pengalaman rohani si penulis tanpa sedikitpun mengutip ayat Al-Qur’an atau penafsirannya (sunnah Rasulullah), hati-hati jangan tergesa-gesa menjadikan pelajaran dari tulisan itu sebagai hidayah. Anda sedang terjebak dalam kezoliman, menempatkan petunjuk lain sejajar dengan petunjuk Allah. Parahnya si penulis kadang malah sering mengutip kalimat-kalimat dari para tokoh seperti Khalil Gibran, Socrates, Soekarno, dll. Sekali lagi hati-hati, kita harus tetap meng-compare kalimat-kalimat tersebut apakah merupakah penafsiran dari ayat-ayat Al-Qur’an? Jangan sekali-kali merasa cukup dengan ucapan para penyair itu sebagai petunjuk untuk menjalani hidup ini sebelum kita menemukan sumbernya dalam Al-Qur’an.

Comments

bhq 18 October 2006, 1:44 pm

Jangan sekali-kali merasa cukup dengan ucapan para penyair itu sebagai petunjuk untuk menjalani hidup ini sebelum kita menemukan sumbernya dalam Al-Qur’an.

…. termasuk hati-hati dengan tulisan ini :P

    Nah ini dia komen yg saya tunggu-tunggu, betul memang, berarti bang baihaqi sudah memahami inti dari artikel saya. Itulah yang ingin sampaikan, jangan sekali-kali menjadikan sebuah tulisan atau ceramah sebagai petunjuk, sebelum kita meng-comparenya dengan Al-Qur’an, atau kita akan menjadi musyrik. Selamat atas terbukanya fikiran bang baihaqi.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: em, b, blockquote



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.